kurikulum

Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli
Hilda Taba: Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta perkembangan individu
Daniel Tanner & Laurel Tanner : Pengalaman pembelajaran yang terencana dan terarah, yang disusun melalui proses rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan agar pembelajar dapat terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi sosial pribadinya.
Romine : Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran, aktivitas dan pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di dalam maupun di luar kelas.
Murray Print. : Kurikum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan.
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu, para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar.

Senin, 24 Oktober 2011

COOPERATIVE LEARNING;

COOPERATIVE LEARNING; Pendidikan Berbasis Kebersamaan A. Pendahuluan. Akhir-akhir ini kita sering melihat pristiwa-peristiwa yang menyedihkan akibat terkikisnya rasa humanisme. Diantara kita sangat mudah terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan baik yang dilakukan oleh secara perorangan maupun secara berkelompok bahkan secara massif. Sebut saja misalnya penyerangan salah satu kelompok keagamaan terhadap kelompok yang lain, tawuran antar mahasiswa, dan kekerasan di kampus IPDN yang masih terbayang di mata kita. Selain senang menggunakan kekerasan, saat ini kita juga sudah terbiasa menyaksikan peristiwa acuh tak acuh dan tidak peduli terhadap orang lain. Tindakan kekerasan dan tradisi tidak mempedulikan orang lain merupakan cermin dari sikap arogansi, merasa paling benar, dan ketidakmampuan kita mensinergikan berbagai perbedaan yang ada disekitar kita. Ketidakmampuan tersebut, salah satunya, disebabkan oleh model pendidikan kita yang kurang memberikan ruang bagai anak didik untuk saling menghargai dan saling bekerjasama. Sekolah sebagai salah satu bagian dari pendidikan dengan tenpa sadar telah dirancang sebagai lapangan pacuan kuda. Di sana anak didik dipacu untuk mengetahui lebih banyak. Meraka tidak dirangsang untuk menjadi sesuatu yang lebih baik, melainkan untuk mengalahkan orang lain. Kemajuan belajar diukur dengan capaian angka-angka, bukan dengan perubahan-perubahan mendasar pada cara berpikir, struktur emosi, dan pola sikap (Mata,2005). Situasi sekolah seperti di atas, akhirnya memicu kompetisi dan persaingan di dalam kelas. Secara positif, model kompetisi bisa menimbulkan rasa cemas yang justru bisa memacu siswa untuk meningkatkan kegiatan belajar mereka. Namun sebaliknya, model kompetisi juga mempunyai dampak-dampak negatif yang perlu diwaspadai. Model pembelajaran kompetisi menciptakan suasana permusuhian di kelas. Untuk bisa berhasil dalam sistem ini, seorang anak harus mengalahkan teman-teman sekelasnya. Sikap "agar aku bisa menang, orang lain harus kalah," erat hubungannya dengan prinsip "tujuan mengholalkan segala cara". Seseorang yang begitu berambisius untuk menang, tetapi merasa tidak bisa mengalahkan pesaingnya bisa tergoda untuk menjatuhkan pesaingnya dengan cara apa pun. Terlalu banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan caracara keji don licik dalam memenangkan persaingan (Lie,2004). Berdasarkan uraian di atas, perlu adanya model pendidikan alternatif yang berdasarkan kepada kebersamaan yang disebut dengan pendidikan kooperatif (cooperative learning). Falsafah yang mendasari model pendidikan ini adalah falsafah homo homini socius, yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah. Tanpa kerja sama, kehidupan ini sudah punah. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Lungdren, 1994) : a. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama.” b. Para siswa harus memiliki tanggungjawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi. c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama. d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok.   e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok. f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar. g. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Menurut Thompson, et al. (1995), Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan- keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995). C. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak- tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu: a. Hasil belajar akademik Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. b. Penerimaan terhadap perbedaan individu Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain. c. Pengembangan keterampilan sosial Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

BAHASA INDONESIA

TUGAS BAHASA INDONESIA Oleh Nama: Huasairi Nim : 151099001 Jurusan : S1 PGMI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)MATARAM 2011/2012   Model-Model Pembelajaran Khas Bahasa Indonesia 1. Pembelajaran Terpadu Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Pmbelajaran terpadu adalah pemblajaran yang menghubungkan aktivitas anak berintraksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam lingkungannya. 2. Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik mrupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek mengajar. Pembelajaran tematik hanya di ajarkan pada siswa SD kelas rendah karena pada umumnya mereka melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan(holistic), perkembangan fisiknya tidak pernah dipisahkan dengan perkembangan mental, social dan emosional. 3. Pakem PAKEM adalah strategi pembalajaran yang menciptakan variasi kondisi eksternal dan internal dengan melibatkan siswa secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga pembelajaran bermakna. Dri segi gru pakem diartikn sbg Aktif diartikn sbg upya mengaktifkn diri dlm memamntau kgytn bljr siswa, membri umpan balik, mengajukn prtanyaanyg mnantg siswa, memprtaxakn ggsn siswa. Kreatf di artikn sbg upya gru dlm mgembgkn kgytn bragam dn membuat alt bntu bljr scra sdrhna Efktif diartikn sbg pncpaian hsl yg tlh di rmskn olh gru Mxenangkn diartikn sbg upya gru membwt ank tdk tkt slh, tdk tkt di tertwakn, tdk mtkt di anggap spele, mgkondisikn ank asyik bljr. Dr siswa yaitu Aktf diartikn sbg kgytn siswa trlibt aktf dlm mgemukakn prtaxaan, mengemukakn ggsn, memprtacxakn ggsn org lain dan ggsnx. Kreatf diartikn sbg siswa kreatf merancang, membwt sesuatu, melaporkn dsb. Efktif artix siswa memiliki bbrpa ktrampiln yg diprlukn. Menyenagkn artixa ank brani mncoba, brani brtax, brani mengemukakn ggsn, berni memprtaxakn ggsn org lain, senang dlm melakukn kgytn shg terdorong utk bljr trs spnjg hyt dn mndiri. 4. Pembegi pembelajaranlajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah salah satu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesame dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari satu orang atau lebih. Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Kooperatif a. individual accountability, yaitu bahwa setiap individu dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang di hadapi oleh kelompok. b. social skill, yaitu mengajarkan siswa untuk belajar memberi dan menerima, mengambil dan menerima tanggung jawab, menghormati hak orang lain dan membentuk kesadaran diri. c. positive interdependence, yaitu sifat ketergantungan satu terhadap yang lain di dalam kelompok secara positif. d. group processing, yaiu pross jawaban prmasalahan di krjakan olh klompok scara brsamasama. 5. Pembelajaran Keterampilan Proses Pembelajaran keterampilan proses adalah pembeljrn dgn mengembgkn ktrmpiln2 memproses perolhn shg siswa mampu mnemukn dan mgmbgkn fakta dan konsep srta mnumbuh kmbgkn sikp dn nilai. Lgkh2 kgytn ktrmpiln proses di antrax mengobservasi atau mengamti, trmsk di dlmnya: menghitung, mengukur, mengklasifikasikn, mncri hbgn ruang/wktu, membwt hiptesis, mrncnkn pnltyn/eksprimn, mgndlikn variable, menginterpretasi atau menafsirkn data, menyusn ksmpln smntra, mramlkn, mnrapkn dan mgkomuniksikn. 6. Pembelajaran Kecakapan Hidup (Life Skill) Pmbljrn ini dlndsi olh esensi kckpn hdp, yaitu kmampwn seseorg utk memhmidirix dn ptensix dlm khdpn, antra lain mnckup pnentwn t7an, memechkn mslh dn hidp brsma org lain. 7. Pembelajaran Bahasa Menyeluruh (Whole Language) Adlh suatu pndektn trhdp pmbljrn bhsa scra utuh, artix dlm pmbljrn bhsa qt mgjrknx scra kntkstual, logis, kronologis, dan komuniktf srta mggunkn setting yang rill dn brmkna. Dg whole language approach trdpt hbgn yg intrktif antra mndengrkn, brbicra, membca dan mnulis. 8. Pembelajaran Kontekstual Adlh konsp bljr yg membntu guru mengaitkn mtri yg di ajrkn dg situasi dunia nyata dn mendrong sswa membwt hbgn antra pgetahuan yg dimilikix dlm khdpn mrk shri2, dg mlibtkn 7 komponen utma pmbljrn efktf: 1. Konstruktivisme, 2. Brtaxa, 3. Mnemukn, 4. Masyarkt bljr, 5. Pmodeln, 6. Reflksi, 7. Pnilaian sbnrx. TUJUH KOMPONEN CTL 1.Konstruktivisme 2.Inquiry 3.Questioning 4.Learning Community 5.Modeling 6.Reflection 7.Authentic Assessment 9. Pembelajaran Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, Masyarakat) adlh pmbljrn yg memfokuskn kgytn bljr pd muatn sains, lingkungn, tknologi, dn masyarkt. siswa di arhkn mengintegrasikn bbrpa aspek yg slg brhbungn spt ktrmpiln brpikr, sikp, ktrampiln motorik, menginfomsikn dn kognitf.

ASPEK PSIKOPEDAGOGIK DALAM SASTRA ANAK

ASPEK PSIKOPEDAGOGIK DALAM SASTRA ANAK Oleh Witakania S. Som Rentang kehidupan manusia dibagi ke dalam beberapa tahapan. Dimulai dengan periode pranatal, masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa usia pertengahan, hingga berakhir pada masa lanjut usia. Pembagian tahapan ini didasari bentuk-bentuk perkembangan dan pola perilaku yang khas bagi usia tertentu. Setiap individu melalui satu periode dan kemudian berkembang menuju periode sesudahnya. Perkembangan yang ditandai dengan perubahan tersebut menuntut kesadaran individu atas perubahan yang terjadi pada dirinya, sehingga dia mampu bersikap dengan jelas terhadap perubahan-perubahan tersebut. Perkembangan dalam hal ini merupakan serangkaian perubahan progresif sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan : a. Perubahan akan terjadi bila individu memperoleh bantuan atau bimbingan untuk membuat perubahan. b. Perubahan akan terjadi bila orang-orang yang dihargai memperlakukan individu dengan cara-cara yang baru atau berbeda. c. Perubahan akan terjadi bila ada motivasi yang kuat dari pihak individu untuk membuat perubahan. Bila perilaku memperoleh persetujuan sosial, maka hanya ada sedikit motivasi untuk membuat perubahan. Sebaliknya bila perilaku menimbulkan ketidaksetujuan sosial, maka akan timbul motivasi yang kuat untuk berubah (Hurlock, 1980 : 6). Sebuah fakta penting yang harus diketahui dalam kaitannya dengan perkembangan individu adalah bahwa setiap tahapan perkembangan memiliki pola perilaku yang khas. Pola tersebut ditandai dengan periode equilibrium, yaitu periode ketika individu dengan mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan dan kemudian berhasil membuat penyesuaian diri dan penyesuaian sosial yang baik. Periode ini kemudian diikuti oleh periode disequilibrium, yaitu periode ketika individu mengalami kesulitan penyesuaian yang menimbulkan penyesuaian diri dan sosial yang buruk. Kedua periode tersebut terdapat dalam semua tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dijalani atau dilalui. Tugas perkembangan mengisyaratkan tiga macam tujuan yang berguna, yaitu : a. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat b. Sebagai motivasi untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok social c. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka (Hurlock, 1989 : 9). Tugas perkembangan tersebut memerlukan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri selalu sulit dan disertai bermacam ketegangan emosional. Periode yang paling banyak menimbulkan kesulitan adalah periode remaja. Periode ini dimulai ketika seorang anak matang secara seksual dan berakhir saat dia matang secara hukum sebagai orang dewasa. Pada umumnya masa remaja dimulai pada usia 13 tahun dan berakhir pada umur 21 tahun. Masa ini sering dibagi menjadi remaja awal ( 13 – 17 tahun) dan remaja akhir (17 – 21 tahun). Havighurst (Hurlock, 1989 : 10) menjelaskan tugas perkembangan sepanjang periode remaja, yaitu · Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya, baik dengan sesama maupun dengan lawan jenis · Mencapai peran sosial sebagai pria dan perempuan · Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif · Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab · Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya · Mempersiapkan karir ekonomi · Mempersiapkan perkawinan dan keluarga · Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku – mengembangkan ideologi. Tugas perkembangan masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku individu. Hal ini menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu mereka. Kesulitan dalam penerimaan diri, bila keadaan fisik tidak sesuai dengan keinginan menuntut suatu konsep diri yang berbeda serta pengetahuan cara memperbaiki penampilan diri. Selain itu peran seks memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun serta kesadaran untuk menerima peran tersebut. Kesadaran akan peran seks berhubungan dengan situasi baru di mana para remaja harus mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis untuk mengetahui siapa mereka serta bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sulitnya mengembangkan hubungan baru yang matang dengan lawan jenis kemudian akan menimbulkan masalah dan menuntut penyesuaian diri. Penyesuaian diri juga harus dilakukan dalam kaitannya dengan kemandirian emosional yang diinginkan remaja. Di satu sisi mereka ingin mandiri, namun di sisi lain mereka masih mengharapkan rasa aman yang dapat mereka peroleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang dewasa lainnya. Di sini terlihat betapa peran orang tua sangat penting untuk membantu dan membimbing remaja dalam memahami dirinya serta dalam menghadapi perubahan yang terjadi selama tahapan peralihan ini. Selain orang tua, sekolah adalah pihak yang berperan penting karena sekolah berfungsi untuk membantu perkembangan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial. Selain itu, sekolah juga membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa yang berlaku, misalnya nilai-nilai tanggung jawab. Orang tua, orang dewasa, dan sekolah harus mendampingi remaja dalam melalui masa yang disebut “negative phase” atau periode negatif. Masa ini ditandai dengan : - Keinginan untuk menyendiri - Berkurang kemauan untuk bekerja - Kurang koordinasi fungsi-fungsi tubuh - Kejemuan - Kegelisahan - Pertentangan sosial - Penantangan terhadap kewibawaan orang dewasa - Kepekaan perasaan - Kurang percaya diri - Timbul minat terhadap lawan jenis - Kepekaan perasaan susila - Kesukaan berkhayal. (Mappiare, 1982 : 48) Periode negatif ini disebut juga periode “serba tidak” (the un stage), yaitu tidak seimbang (unbalanced), tidak stabil (unstable), dan tidak dapat diramalkan (unpredictable). Sebutan tersebut timbul karena masa remaja merupakan masa peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada periode ini seorang anak dituntut untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanakkanakan untuk kemudian mempelajari pola perilaku dan sikap baru. Seorang remaja tidak dapat lagi dianggap anak-anak, namun belum dapat dianggap dewasa. . Karena merupakan masa peralihan, maka status individu menjadi tidak jelas dan ada keraguan akan peran yang harus dilakukan. Status ini menimbulkan kebingungan. Namun sekaligus memberikan keuntungan, karena memberikan waktu untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai, dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya (Hurlock, 1989 : 207). Masa remaja juga ditandai dengan perubahan-perubahan besar dan sangat berarti dalam diri individu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik, emosi, sosial, dan intelektual. Secara garis besar Elizabeth Hurlock membagi perubahan tersebut menjadi lima perubahan universal, yaitu : a. Meningginya emosi dengan intensitas yang bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi b. Perubahan tubuh, minat, dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial yang kemudian menimbulkan masalah baru bagi remaja. c. Perubahan minat dan pola perilaku mengakibatkan perubahan pada nilai-nilai yang dianut. d. Sikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Remaja menginginkan dan menuntut kebebasan, sekaligus takut akan tanggung jawab dan ragu akan kemampuan mereka untuk mengatasi tanggung jawab tersebut (Hurlock, 1989 : 208). Perubahan-perubahan yang terjadi selama periode negatif tersebut melahirkan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, tidak dapat dipercaya, dan cenderung merusak dan berperilaku merusak. Stereotip ini sangat mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya sendiri dan membuat proses peralihan ke masa dewasa menjadi sulit bagi si remaja. Hal ini dipersulit dengan banyaknya tekanan moral dan kultur yang bertentangan. Padangan masyarakat yang diwujudkan dalam stereotip tersebut menimbulkan pertanyaan penting dalam seluruh rentang kehidupan, yaitu pertanyaan mengenai identitas diri atau dikenal dengan istilah masalah identitas-ego. Masalah remaja dan pencarian identitas diri ini sering menjadi tema menarik untuk dibahas. Banyak penelitian telah dilakukan, misalnya dalam bidang psikologi, sosial, pendidikan, dan sastra. Mengapa sastra? Karena sastra adalah gambaran dari masyarakat, kehidupan, dan seluruh permasalahannya. Dengan sifat mimetisnya, sebuah karya sastra memotret manusia dan kehidupannya untuk kemudian dipahami oleh pembacanya sebagai upaya untuk memahami manusia dan kehidupannya. Hal ini sesuai dengan pandangan Horatius bahwa sastra harus bertujuan dan berfungsi utile et dulce (bermanfaat dan indah). Bermanfaat karena pembaca dapat menarik pelajaran yang berharga dalam membaca karya sastra, yang mungkin bisa menjadi pegangan hidupnya karena mengungkapkan nilai-nilai luhur. Mungkin juga karya sastra mengisahkan hal-hal yang tidak terpuji, namun pembaca masih bisa menarik pelajaran, sebab dalam membaca dan menyimak karya sastra pembaca dapat ingat dan sadar untuk tidak berbuat demikian. Selain itu, sastra harus bisa memberi nikmat melalui keindahan isi dan keindahan bahasanya (Pradotokusumo, 2005 : 6). Berkat keindahannya, karya sastra dianggap menampilkan kualitas estetis yang paling beragam sekaligus paling tinggi. Aspek estetis karya sastra dihasilkan oleh keragaman genre yang bersifat dinamis, ketakterbatasan cerita yang dihasilkan yang tergantung pada kemampuan pengarang dan pembaca untuk menciptakan dan menafsirkannya, serta bahasa sebagai medium karya sastra yang memiliki kemampuan untuk berkembang secara tak terbatas, yang tergantung pada kemampuan imajinasi pembaca (Ratna, 2007 : 289 - 290). Aspek estetis akan tampak bila pembaca mampu melihat dan menikmatinya. Kepekaan pembaca akan membuat kehidupan ini penuh makna, akan melihat betapa setiap ciptaan Tuhan berfungsi. Tugas manusialah untuk memanfaatkan semua itu. Sebaliknya tanpa kemampuan untuk melihat keindahan, semua hal menjadi tak bermakna, sehingga hidup menjadi hampa. Estetika mempengaruhi manusia melalui kesadaran total proses psikologis. Mencermati pentingnya estetika dalam kehidupan manusia, maka Mukarovsky (Ratna, 2007 : 291) menyebutkan tiga fungsi, yaitu : - Membangkitkan rasa bahagia, tenteram, dan damai - Mendominasi pusat perhatian pada saat tertentu, sekaligus mengabaikan perhatian lain yang pada saat itu tidak diperlukan - Mengganti fungsi lain yang sudah usang. Ketika berbicara aspek estetis, maka terlihat bahwa pembaca memiliki peran yang penting. Aliran postrukturalisme memberikan kedudukan terhormat kepada pembaca, sehingga pembaca seolah-olah menjadi penulis (writterly). Hal ini menjadi dasar bagi perkembangan estetika resepsi, yaitu aspek-aspek keindahan yang timbul sebagai akibat pertemuan antara karya sastra dengan pembaca. Sebuah karya sastra mempertemukan aspek estetika dengan etika. Dengan kekuatan aspek estetis, aspek etis secara tidak langsung masuk di dalamnya. Sebuah karya sastra memuat nasihat, teladan, pendidikan, dan pengajaran, yang kesemuanya disampaikan secara tidak langsung. Untuk memanipulasi ciri-ciri etis suatu karya sastra, bahasa berperan penting. Penggunaan metafora, makna konotatif, dan aspek stilistika membuat pembaca melihat aturan dan norma semata sebagai keindahan. Dengan kekuatan bahasa, karya sastra dianggap lebih mampu mengubah tingkah laku manusia dibandingkan hukum formal. Keindahan sastra diharapkan dapat mengarahkan manusia untuk berperilaku estetis, sehingga kehadirannya akan memperoleh makna yang positif dalam masyarakat. Karya sastra harus berfungsi membangun kehidupan sosial, menciptakan energi baru, serta melahirkan pola dan struktur yang baru. Jadi sastra dan keindahannya akan memberikan manfaat kepada umat manusia. Manfaat sastra tidak hanya dapat dirasakan oleh orang dewasa, namun juga oleh anak-anak. Manfaat pertama yang dirasakan oleh anak-anak adalah kesenangan. Namun, lebih jauh lagi, mereka dapat memperoleh manfaat lain, yaitu : - Karya sastra adalah sumber utama untuk mengenali warisan kesusastraan dari generasi ke generasi. - Dengan memahami dan menikmati karya sastra, maka sastra berperan dalam pemahaman dan penilaian terhadap warisan budaya. - Pengembangan perilaku positif terhadap budaya sendiri sekaligus budaya lain yang sangat penting bagi perkembangan sosial dan personal. Karya sastra membangun pemahaman dan pengertian antarbudaya. - Melalui karya sastra anak-anak melihat bagaimana tokoh menangani masalah yang dihadapi. Proses identifikasi dengan tokoh membuat mereka kemudian akan dapat mengatasi masalahnya sendiri. Selain itu mereka juga akan memahami perasaan orang lain. - Karya sastra merupakan pintu menuju pengetahuan dan pengembangan minat. - Karya sastra memperkaya dan memperluas imajinasi, sekaligus estetika. - Karya sastra membantu perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan kepribadian, dan perkembangan sosial anak. (Norton, 1983 : 5) Ketika timbul kesadaran bahwa anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa, maka mereka memerlukan karya sastra yang khusus diperuntukkan bagi mereka. Kemudian sebuah genre sastra baru mulai dikenal, yaitu sastra anak (Children’s literature, littérature de jeunesse). Hunt (Nurgiyantoro, 2005 : 8) mendefinisikan sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka. Salah satu jenis sastra anak yang dikenal adalah bildungsroman (dalam bahasa Perancis dikenal dengan sebutan roman de formation) yang lahir di Jerman pada masa sastrawan besar Johann Wolfgang von Goethe. Bildungsroman memiliki tema perjalanan evolutif tokoh utama dalam menjadi manusia yang ideal dan berpengetahuan luas. Tokoh protagonis melalui suatu proses evolusi dan pada saat yang sama harus berhadapan dengan dunia dan permasalahannya. Tokoh yang masih muda, naif, dan penuh dengan idealisme harus menghadapi dunia nyata yang berbeda dengan yang dibayangkannya. Hal ini kemudian menimbulkan pertentangan antara jiwa yang idealis dengan kenyataan yang berlawanan. Sebagai konsekuensinya muncullah ketidakpahaman dan penolakan baik dari si tokoh maupun dari lingkungannya. Dari sini terjadi proses evolutif dan edukatif di mana tokoh memperoleh pengalaman konkret yang akan membuatknya dewasa dan matang. Perjalanan protagonis pada umumnya berakhir dengan keadaan yang harmonis dan seimbang dengan dunia sekitarnya. Tokoh utama akhirnya dapat berdamai dengan dunia dan menemukan tempatnya, sehingga dia menjadi bagian dari dunia yang dahulu ditolaknya. Dalam genre bildungsroman, konsep formasi atau pendidikan memegang peranan penting. Proses formasi atau pendidikan ini tidak hanya terjadi dalam dunia tokoh cerita, melainkan juga, diharapkan, terjadi pada diri pembacanya. Dari uraian di atas terlihat bahwa karya sastra memiliki muatan pendidikan, dan sebaliknya, dunia pendidikan juga memerlukan sastra sebagai wahana pendidikan. Jadi, pendidikan dan sastra merupakan dua aspek yang saling menunjang. Oleh karena itu, pengajaran sastra di institusi pendidikan tidaklah dapat dipandang remeh. Melalui pengajaran sastra, sesungguhnya kita telah dibawa ke tingkat manusia terdidik, yaitu manusia yang mampu berpikir tentang hidup, pandai memahami rahasia hidup, menghayati kehidupan dengan arif, dan mempertajam pengalaman-pengalaman baru. Melalui pengajaran sastra pula, peserta didik akan mampu memahami diri secara individu dan kelompok, sehingga akan menjadi manusia yang utuh, bermental baik, dan humanis (Endraswara, 2005 : 53). Jadi pengajaran sastra melibatkan pendidikan kejiwaan sekaligus kemanusiaan. Pengajaran sastra seharusnya bertumpu pada pembinaan apresiasi, sehingga peserta didik akan mampu menerima, memahami, menghayati, merespon, dan mereaksi karya sastra. Pada akhirnya mereka akan mampu menginterpretasikan sastra atas dasar pengalamannya. Untuk sampai pada kemampuan apresiatif, diperlukan beberapa langkah, yaitu : a. Keterlibatan jiwa. Melalui perasaan empati dan simpati terhadap karya sastra, pembaca akan mampu menginternalisasi tokoh, peristiwa, dan karakter sesuai dengan pengalaman pribadinya. b. Penghayatan sejati terhadap karya sastra dengan memasuki cipta sastra secara inten, menikmatinya dengan kedalaman jiwa dan imajinasi. c. Pengimplentasian pengalaman yang ada dalam karya sastra dengan kehidupan nyata, sehingga sebuah karya sastra menjadi bermakna dan kontekstual (Endraswara, 2005 : 78 -79). Sebagai jalur penting dalam pengajaran sastra, Loban (Endraswara, 2005 : 103) mengemukakan bahwa apresiasi harus memperhatikan beberapa aspek, yaitu : a. Apresiasi sastra harus mampu berpengaruh pada kejiwaan individu b. Individu mampu merespon pada karya yang sedang dinikmati, baik secara emosional maupun secara intelektual c. Kegunaan sastra sampai pada lahirnya pemahaman diri sendiri d. Karya sastra harus memberikan imajinasi yang mampu menghadirkan pengalaman sastra yang menakjubkan e. Kapasitas sastra dalam menyerap pikiran dan emosi akan menyadarkan pembacanya ke arah hidup yang sejati. Aspek apresiatif mengarahkan kita pada pemahaman bahwa pengajaran sastra seharusnya mengarah pada aspek pragmatis, yaitu kegunaan atau fungsi sastra bagi peserta didik. Terdapat dua fungsi pokok pengajaran sastra, yaitu, pertama, pemerolehan kompetensi pada tataran pengalaman yang akan memungkinkan peserta didik mengakses berbagai hal lewat pembacaan karya sastra. Kedua, pemerolehan gambaran dan penjelasan secara luas dari pengalaman itu sendiri (Endraswara, 2005 : 42). DAFTAR PUSTAKA Endraswara, Suwardi. 2005. Metode & Teori Pengajaran Sastra. Yogyakarta : Buana Pustaka Hamalik, Oemar. 1995. Psikologi Remaja. Bandung : Mandar Maju Hurlock, Elizabeth B. 1989. Psikologi Perkembangan. Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soejarwo. Jakarta : Erlangga Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional Norton, Donna E. 1983. Through the Eyes of a Child : An Introduction to Children’s Literature. Ohio : Bell & Howell Company Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak : Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta : Gramedia Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kamis, 20 Oktober 2011

Metode diskusi adalah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan obyektif. Metode diskusi dimaksudkan untuk dapat merangsang siswa dalam belajar dan berfikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya dalam memecahkan suatu masalah yang berhubungan dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Metode diskusi adalah satu dari alat yang paling berharga dalam daftar strategi yang dimiliki pengajar, seringkali pengajar dari kelas besar merasa bahwa ia harus menggunakan metode ceramah karena diskusi tidak mungkin digunakan. Sebenarnya diskusi bisa digunakan dalam semua kelas besar maupun kecil. Memang diskusi di kelas kecil lebih efektif dibanding dengan kelas besar, tetapi kelas besar jangan jadi penghalang bagi kemampuan pengajar mendorong partisipasi serta berpikir siswa. a. Diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yang bergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. b. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilimiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau penyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah c. Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. d. Diskusi ialah suatu proses penglihatan 2 atau lebih indifidu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. e. Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian pelajaran melalui cara pertukaran pikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapi * Menurut saya diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok dalam proses tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas. Persyaratan Diskusi • Berkomunikasi dalam kelompok dengan catatan : 1. Tata tertib tidak ketat. 2. Setiap orang diberi kesempatan berbicara. 3. Kesediaan untuk berkompromi. • Bagi peserta diskusi : 1. Pengertian yang menyeluruh tentang pokok pembicaraan. 2. Sanggup berpikir bebas dan lugas. 3. Pandai mendengar, menjabarkan dan menganalisa. 4. Mau menerima pendapat orang lain yang benar. 5. Pandai bertanya dan menolak secara halus pendapat lain. • Bagi pemimpin diskusi : 1. Sikap hati-hati,cerdas,tanggap. 2. Pandai menyimpulkan. 3. Sikap tidak memihak. Pola-Pola Diskusi Prasarana 1. Penyajian bahan pokok oleh satu atau beberapa orang pembicara dengan prasaran tertulis (makalah, kertas kerja). 2. Tanggapan terhadap bahan pokok oleh pembicara lain (penyanggah / pembahas). 3. Tanggapan peserta diskusi (forum) terhadap bahan pokok. Ceramah 1. Seorang / lebih penceramah menguraikan bahan pokok. 2. Tanggapan, sanggahan atau pertanyaan dari forum untuk meminta penjelasan yang lebih teliti. Diskusi Panel 1. Bahan pokok disajikan oleh beberapa panelis. Panelis meninjau masalah dari segi tertentu. 2. Tanggapan, sanggahan atau pertanyaan forum untuk meminta penjelasan dari panelis. Brainstorming 1. Bahan pokok yang dipersiapkan ditawarkan kepada peserta diskusi oleh pimpinan. 2. Tiap peserta diminta pendapat dan gagasannya. Sebanyak mungkin orang diajak bicara dan setiap ide dicatat. 3. Berbagai ide disimpulkan dan ditarik benang merahnya. Kesimpulan ini kemudian dijadikan kerangkan pembicaraan dan pembahasan lebih lanjut. Pengertian Diskusi. Kata diskusi berasal dari bahas Latin discutio atau discusum yang berarti bertukar pikiran. Dalam bahasa Inggris digunakan kata discussion yang berarti perundingan atau pembicaraan. Dari segi istilah, diskusi berarti perundingan/bertukar pikiran tentang suatu masalah: untuk memahami, menemukan sebab terjadinya masalah, dan mencari jalan keluarnya. Diskusi ini dapat dilakukan oleh dua-tiga orang, puluhan, dan bahkan ratusan orang. Diskusi adalah sebuah proses tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas, lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan dan merampungkan kesimpulan/pernyataan/keputusan. Di dalam diskusi selalu muncul perdebatan. Debat ialah adu argumentasi, adu paham dan kemampuan persuasi untuk memenangkan pemikiran/paham seseorang. a. Kebaikan metode diskusi (1) dapat memperluas wawasan peserta didik, (2) dapat merangsang kreativitas peserta didik dalam memunculkan ide dalam memecahkan suatu masalah, (3) dapat mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain, (4). dapat menumbuhkan partisipasi peserta didik menjadi lebih aktif. b. Kekurangan metode diskusi (1) kemungkin besar diskusi akan dikuasai oleh peserta didik yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri, (2) tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar, (3) peserta mendapat informasi yang terbatas, (4) menyerap waktu yang cukup banyak, (5) tidak semua guru memahami cara peserta didik melakukan diskusi. Kebaikan dan kelemahan metode diskusi : Kebaikan : a. Siswa belajar bermusyawarah b. Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetabuan masing-masing. c. Belajar menghargai pendapat orang lain. d. Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah. Kekurangan/kelemahan : a. Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan. b. Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian. c. Membutuhkan waktu cukup banyak. d. 1. Tahap Persiapan e. a. Merumuskan tujuan pembelajaran f. b. Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas. g. c. Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar. h. d. Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan merumuskan aspek-aspek masalah,(2) menentukan alokasi waktu,(3) menuliskan garis besar bahan diskusi,(3) menentukan format susunan tempat,(4) menetukan aturan main jalannya diskusi. i. e. Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi,(2) menentukan dan mendisain tempat,(3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. j. 2. Tahap pelaksanaan k. a. Menyampaikan tujuan pembelajaran. l. b. Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan. m. c. Menjelaskan prosedur diskusi. n. d. Mengatur kelompok-kelompok diskusi o. e. Melaksanakan diskusi. p. 3. Tahap penutup q. a. Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil. r. b. Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi. s. c. Memberikan umpan balik. t. d. Menyimpulkan hasil diskusi. u. Peranan Guru Sebagai Pemimpin Diskusi v. Untuk mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas diskusi, guru sebagai pemimpin diskusi memegang peranan menentukan. Mainuddin, Hadisusanto dan Moedjiono, 1980:8--9, menyebutkan sejumlah

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM A. Pendahuluan Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal. 2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal. 3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. 4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. 5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda . Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya. B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf. Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan.Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu 1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong. 3) Ada yang di didik atau si terdidik. 4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan. Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya. Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)” Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan : 1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT. 2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam. 3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan. Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia : 1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya. 2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. 3) Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya. C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan. D. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam Prof. Mohammad Athiyah abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu : 1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. 2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus. 3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya. 4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan. 5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut : Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan. Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink. Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah. Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena. F. Penutup. Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam. Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000 Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984. Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983. Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995. Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997
Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget [4/05/2010 08:22:00 PM | 0 comments ] PENGERTIAN Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. PRINSIP DASAR TEORI PIAGET • Jean Piaget (seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980) dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. • Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. contoh: manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi. 3 Aspek Inteligensi Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda: 1. Struktur Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur & organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller, 1993). 2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif: 1) seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses. 2) lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural. Piaget tidak melihat struktur kognitif sebagai mekanisme biologis lahiriah. Dia tidak percaya bahwa anak-anak memasuki dunia dengan “piranti dasar” untuk memahami realita. Anak-anak secara perlahan & bertahap membangun cara pandang mereka sendiri terhadap realita. Pembentukan struktur kognitif mulai pada awal kehidupan segera setelah bayi mulai memiliki pengalaman dengan lingkungan. Tapi bukankah seorang bayi yg baru lahir belum memiliki pengalaman apapun terhadap lingkungan? Piaget percaya bahwa seorang bayi yg tidak berpengalaman penuh memiliki struktur yg sudah terbentuk yg memprogramkan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan, ini yg disebut struktur fisik, seperti sistem syaraf & otak manusia serta organ2 sensorik spesifik. Dan refleks-refleks yg disebut sebagai “automatic behavioral reactions”. Bayi melatih struktur-struktur ini dalam interaksi dengan lingkungan & memulainya dengan segera untuk mengembangkan struktur kognitif. 2. Isi Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa” ditentukan oleh kognitif atau intelektual. 3. Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi. Organisasi: cenderung uuntuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas. Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara: a. organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka. b. organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter. Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia: 1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun) 2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun) 3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun) 4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa) 1. Periode sensorimotor Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan: a. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks. b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). e. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. f. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas. 2. Tahapan praoperasional Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan. 3. Tahapan operasional konkrit Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah: Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan) Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi. Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya. Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain. Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang. 4. Tahapan operasional formal Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur. • Universal (tidak terkait budaya) • Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan • Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis • Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi) • Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif KRITIK TERHADAP TEORI PIAGET Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik. 1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget. 2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua. 3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak. Diringkas Dari Berbagai Sumber: Wikipedia VALMBAND Latar Belakang Jean Piaget marthachristianti.wordpress.com